Kamis, 15 Oktober 2015

Aku dengan segala kekurangan ku, kamu dengan semua kesombongan mu

Aku lupa sejak kapan tepatnya aku menjadi bagian dari mereka, yang aku ingat hanyalah ada seseorang yang menarik perhatian ku. entah mulai kapan aku memperhatikannya, tapi aku selalu tersenyum dengan kehadirannya. Dia tidak menyadari itu, dia bahkan mungkin tidak mau tahu akan hal itu. Seseorang dengan kesederhanaannya telah mampu membuat hati ku berdegup dengan ritme yang tidak seperti biasanya, entah kenapa  timbul keinginan untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Di sisi lain.., sebagian hati ku melarang ku untuk jatuh cinta lagi, ada ketakutan akan rasa kecewa yang besar dalam hatiku. perlahan ku coba yakinkan hati, sampai pada akhirnya tanpa aku mengira bahwa hal ini akan terjadi, kamu tiba-tiba saja memberikan tanda-tanda bahwa kamu juga ingin mengenalku lebih jauh lagi.

Kita akhirnya mengikrarkan sebuah janji untuk selalu bersama, saling membuka hati untuk rasa sayang yang sedang mengalir di setiap nadi kita, dan untuk cinta yang akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Hari-hariku selalu diwarnai kehadiran mu, senyumku kembali merekah seperti aku baru saja mendapat kekuatanku kembali untuk menjalani hidup dan membuka kembali pintu untuk lebih bersosialisasi dengan semesta. Aku bahagia... tapi aku lengah. Aku lupa bahwa apapun bisa saja terjadi, aku lupa bahwa aku tidak boleh terlalu dalam menyelami perasaan ini.., aku lupa bahwa tidak ada rasa yang abadi di dunia ini, hingga akhirnya aku terluka lagi.

Kita adalah rasa yang menyatu dengan tiba-tiba, kita adalah rasa yang menyatu tanpa persiapan matang.., dan aku sudah jatuh terlalu dalam. Kelemahan ku terkuak lagi... hanya dalam waktu singkat aku bisa memberikan seluruh perasaanku terhadapnya, hanya karena ada embel-embel berbumbu manis aku mampu menyayangi nya setulus hatiku sampai aku lupa bahwa itu semua bisa saja hanya sebuah fatamorgana.
Bayangnya tak pernah bisa hilang dariku, atau mungkin aku yang tidak mau menghapusnya dari fikiran ku. terbuai dengan kata-kata berbumbu manis lagi bahwa "kita tetap harus menjaga silahturahmi, karena mungkin saja Tuhan punya rencana indah untuk kita", maka aku pun bertahan.. mencoba menjalin komunikasi dengan mu, dengan harapan hubungan kita akan tetap baik-baik saja dan tidak akan renggang oleh jarak dan waktu meski dalam konteks sebuah pertemanan. Tapi pada akhirnya aku sadar, lebih dari sebulan berpisah selalu saja aku yang memulai, seolah aku sengaja menaruh harga diriku di jalanan dan membiarkannya terinjak-injak. Aku sadar bahwa kau tidak lagi perduli dan tidak mau tahu lagi tentangku.., ya semudah itu lah buatmu. Apapun yang aku lakukan selalu saja pengabaian yang aku dapatkan darimu, meski terkadang kau memberikan "ala kadarnya".., entah karena kasihan atau iba.

Apa kau muak padaku?? Apa kau sebenci itu padaku?? atau kah aku yang terlalu bodoh karena sudah membiarkan kau menyentuh kehidupan ku, apa aku terlalu bodoh karena sudah membiarkan pintu hati terbuka untuk seseorang yang belum terlalu aku kenal seperti mu?. Entahlah.., yang aku tahu saat ini aku lelah dengan pengabaian mu, lelah dengan kebodohan ku. Lelah bertahan tapi belum sanggup benar-benar meninggalkan.

Jumat, 09 Oktober 2015

"Perbedaan"

Terlalu sering mendengar alasan2 yang sebenarnya cliché dan penuh dengan omong kosong...lama2 membuat jengah dan terasa seperti munafik. jika kau selalu saja menjadikan "perbedaan" sebagai alasan untuk mengakhiri sesuatu, maka selamanya akan tetap berputar ditempat yg sama.

Pun sama halnya jika kau mengakhiri persahabatan hanya karena berbeda pemikiran & hobby... dan mengakhiri sebuah hubungan dg pasangan hanya karena sifat kalian berbeda.. atau salah satu dari kalian tidak bisa menerima sifat yg lain... bukankah "perbedaan" ada agar bisa saling melengkapi..? bukankah justru dari "perbedaan" itu seharusnya lebih mendekatkan kalian. jika terus saja mengkambing hitamkan "perbedaan" maka selamanya akan seperti itu..selamanya kau tidak akan merasa puas.. karena jika ingin selaras..seiring seirama maka harusnya bisa menjadikan "perbedaan" yg ada menjadi seperti rangkaian dalam sebuah tangga nada untuk sebuah hubungan dalam konteks apapun.

Menjalin komunikasi yang baik & saling terbuka satu sama lain adalah kunci untuk meyelaraskan "perbedaan" yang ada. jangan terlalu egois dengan mencari yang sempurna. jangan terlalu keras kepala & memaksakan kehendak bahwa setiap orang harus memiliki watak..karakter..dan sifat yang sama dengan kita. karena "perbedaan" ada, agar hidup lebih berwarna dan punya rasa. 😊